Popular Posts

Wednesday, April 27, 2011

Polisi, Manajemen Media dan Budaya Pesohor

Mengejutkan sekaligus menghibur. Mungkin dua kata ini bisa merangkum reaksi beragam kalangan audiens media massa kita belakangan ini terkait fenomena Tari Chaiyya Chaiyya –nya anggota Brimob Polda Gorontalo, Briptu Norman Camaru. Dikatakan mengejutkan dan pada saat yang sama juga menghibur karena persepsi kalangan masyarakat umumnya memandang polisi - terlebih anggota Brimob yang merupakan ‘pasukan perang’ Polri- sebagai individu yang ‘seram’, dan “menakutkan” dan sekian banyak stigma negatif lainnya. Namun, hebatnya, cukup hanya dengan sebuah klip video yang di-upload ke situs video online Youtube, jutaan masyarakat Indonesia seketika melihat sosok polisi sebagai person yang sangat ‘sipil’, jauh dari kesan militeristik karena amat kocak dan sangat menghibur. Tak ada bedanya dengan masyarakat kebanyakan. Kesan polisi yang angker, seram, menakutkan dan militeristik yang selama ini kuat mengakar dalam benak masyarakat kita (terutama dalam era ORBA) , dengan sangat cepat lenyap tak berbekas. Ingat, sekali lagi, cukup hanya dengan meng-upload satu video kocak sang anggota Brimob dengan durasi kurang dari 10 menit .Secepat kilat Sang Briptu nan lucu ini menjelma menjadi selebritis Indonesia. Selebiriti kocak dengan pakaian dinas “pasukan perang” Polisi?
Ya dan itu luar biasa.
Lalu, bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini?

MANAJEMEN MEDIA
Komunikasi melalui media massa menawarkan banyak keuntungan bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Di luar fakta bahwa peliputan berita dinikmati oleh jutaan audiens setiap harinya, pesan-pesan yang ditampilkan dalam media juga dapat memperoleh kredibilitas dan pengaruh karena adanya independensi yang dipersepsikan dari media terkait. Bersikap proaktif dalam kaitan hubungannya dengan pihak media menjadi suatu keharusan bagi politisi/pemerintah agar dapat “membantu” jurnalis dalam proses pembuatan berita. Terkecuali jika pihak pemerintah dapat menyediakan copy (materi untuk diberitakan) bagi jurnalis, maka wartawan akan mencarinya sendiri ke mana saja sampai mereka mendapatkannya. Sifat dasar dari copy yang dapat ditawarkan kepada para jurnalis harus sesuai dengan cara-cara atau format media moderen bekerja yaitu wajib dibuat seringkas mungkin, sederhana, konsisten dan di atas semuanya, visual (Rosenbaum 1997:85).
Relasi antara politisi dan media massa, lebih khususnya lagi antara pemerintah dan media massa, pada hakikatnya melibatkan pertarungan antara sekumpulan kepentingan yang berbeda. Jurnalis memiliki kewajiban untuk mencari dan menyajikan fakta-fakta sementara itu pada sisi yang lain politisi/pemerintah memiliki semacam keharusan untuk memastikan bahwa sebuah berita selayaknya menggambarkan ‘pesan’ yang ia ingin sampaikan (Sommerville 2004). Tidak ada yang baru dalam hal ini - pemerintah / politisi yang ingin mengontrol representasi /pemberitaan media. Isu ini sudah ramai diperbincangkan banyak kalangan sejak awal perkembangan political public relations di awal abad ke-20 (Pearson 1992; McNair 1994; L “Etang 1999).
Terkait dengan intensi untuk mengontrol media, McNair (1994, 1998) dan Franklin (1994) menyebutkan terdapat dua strategi kunci yang biasa dipergunakan pemerintah/politisi untuk mengontrol peemberitaan media tentang mereka serta pemberitaan mengenai berbagai kebijakan mereka, yaitu soundbite dan pseudo-events.

Soundbites dan Pseudo-events
“Mesin berita”, khususnya berita televisi, memberikan banyak waktu tayangnya dengan fokus pada isu-isu politik. Jurnalis, dalam konteks ini, seperti banyak orang dari profesi yang menuntut kerja dengan tenggat yang ketat, mengalami kesulitan memnuhi tenggat dalam tugas mereka. Untuk menyebut satu contoh kasus dalam konteks relasi media dan pemerintah, Cockerell et al.(1984:11) menyebutkan bahwa dalam hubungannya dengan Parlemen Inggris, sangat sedikit jurnalis yang memiliki insentif untuk bisa menggali lebih dalam ke jantung kekuasaan politik, yang mereka bisa lakukan hanya mencapai permukaan kekuasaan parlmemen saja. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban’ para jurnalis siaran untuk dapat mendapatkan rincian-rincian kunci atau pokok-pokok penting dari setiap peristiwa atau perdebatan politik yang ada. Jika pun tugas jurnalis tersebut dapat dibuat lebih mudah, jika pidato dan debat politik di parlemen mengandung frasa-frasa yang mudah diingat (soundbites) yang dapat meringkas poin-point terpenting, maka akan ada kesempatan bagus bahwa bagian-bagian pidato politik ini dapat diseleksi dan kemudian disiarkan dalam paket berita singkat di media siar.
McNair (1994) menyatakan bahwa terdapat banyak pidato politik yang sangat bertendensi dipenuhi dengan banyak soundbite, terjadi dalam konteks yang dikenal dengan istilah ‘pseudo-event. Pseudo-events didefinisikan sebagai :
...” A pseudo-event is an event or activity that exists for the sole purpose of the media publicity and serves little to no other function in real life. Without the media, nothing meaningful actually occurs at the event, so pseudo-events are considered “real” only after they are viewed through news, advertisement, television or other types of media” (wikipedia). Intinya, sebuah pseudo-event bisa dikatakan “nyata” hanya setelah dilihat melalui berita, iklan, televisi atau jenis media lainya.

Dalam konteks Indonesia, kedua teknik tersebut banyak dipergunakan dalam pemberitaan televisi, utamanya dalam konteks berita politik dan sorotan kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan publik. Contoh penggunaan soundbite adalah dalam pemberitaan televisi kita tentang fenomena “kutu loncat” anggota DPR RI dari partai politik A yang berpindah ke partai politik B, karena alasan tertentu. Televisi, mengingat keterbatasan durasi tayangannya, hanya menampilakan kutipan-kutipan singkat dari para narasumbernya. Visual, sembagai unsur terpenting berita televisi, idealnya sedapat mungkin diseleksi sedramatis mungkin (meski dalam banyak kasus terjadi banyak pengulangan gambar dan gambar yang tidak relevan dengan topik beritanya). Contoh lainnya, ini yang masih juga menjadi perhatian publik kita, adalah fenomena selebritis instan Norman Camaru seperti yang disinggung di atas. Pemberitaan televisi bahkan dalam peliputan mengenai Camaru sudah mulai keluar dari pakem standarnya yang harus ringkas, sederhana, konsisten dan visual seperti yang disebutkan oleh Rosenbaum di atas. Televisi lebih jauh lagi bahkan telah melakukan media exposure secara berlebihan baik dari sisi durasi maupun frekwensi tayangan tentang Chaiyya-chaiyya sang Briptu Camaru. Istilah televisinya, peliputannya sudah di “roll” saja. Artinya, semuanya di’shoot’ dan kemudian ditayangkan persis apa adanya, seluruhnya, tanpa melihat bagian mana yang perlu diseleksi menjadi ringkas ke dalam format soundbite berupa frasa-frasa dan visual terpenting dari sang anggota Brimob tersebut. Media televisi kita tampak sekali telah kehilangan pertimbang profesional serta naluri jurnalistiknya dalam konteks pembuatan soundbite ini. Terjemahaan dari fenomena populer ini adalah: pihak televisi menganggap fenomena Norman Camaru sebagai peristiwa yang luar biasa berharga secara ekomoni sehingga layak mendapat porsi peliputan yang hampir tidak terbatas. Bisa disebutkan seluruh stasiun televisi baik lokal maupun nasional berlomba-lomba menayangkan peliputan tentang Norman Camaru, hampir sepanjang waktu siaran, baik dalam program berita maupun progam non berita, non-stop selama lebih dari seminggu terakhir ini.
BUDAYA PESOHOR
Budaya pesohor (celebrity culture), menurut Caravelli (2008), dapat dianggap sebagai bidang media modern yang paling cepat berkembang dewasa ini. Pekerjaan para entertainer pada industri film, televisi, musik dan fashion lengkap dengan gosip seputar kehidupan pribadi mereka dengan mudah dapat dilihat dalam beragam media seperti majalah, koran, televisi dan internet. Para pemain utama dalam budaya pesohor ini dikenal di seluruh dunia dewasa ini. Contohnya, sangat sedikit orang Amerika yang tidak pernah mendengar nama pesohor seperti Angelina Jolie dan Brad Pitt atau pasangan selebriti Inggris David Beckham dan Victoria Beckham. Atau dalam konteks Indonesia terkini, tidak banyak yang tidak kenal siapa Briptu Norman Camaru. Kemampuan budaya pesohor dalam melintas-batas negara dan budaya sebagaimana outlet medianya, telah menjadikannya sebagai sebuah isu penting dalam kajian komunikasi.
Analisis tentang budaya pesohor ini mulai dikenal pada era 1940-an, dengan pionir karya conten analysis biografi majalah yang dilakukan oleh Lowenthal (1944). Karya pionir ini telah mengubah sebuah fokus dari ‘idols of production”, dalam hal ini adalah para politisi dan pengusaha, menjadi “idols of consumption” yaitu para entertainer (Caravelli:2008). Masih menurut Caravelli, meskipun ‘idols of consumption’ ini masih merupakan pusat budaya pesohor saat ini, namun para peneliti komunikasi telah memperluas kajian mereka dengantujuan mengeksplorasi tipe dan tujuan pesohor, media pesohor dan relasi audiens dengan budaya pesohor. Bagian ini tentu tak akan cukup didiskusikan di sini karena membutuhkan ruang yang lebih panjang.
Budaya Pesohor: Alternatif Strategi PR
Polisi kita bagai ketiban ‘durian runtuh” dengan adanya fenomena Chaiya-chaiya ala Norman Camaru. Masyarakat seolah tersihir dengan tingkah-pola sang jejaka kocak ini. Masyarakat kita “lupa” bahwa Norman adalah anggota pasukan elit yang berkemampuan tempur dari Polri. Anggota polisi yang sebenarnya sangat terbiasa dan terampil dengan manajemen kekerasan, yang tentu saja sangat jauh dari kesan ‘lucu” dan “ramah” seperti yang ia tampilkan di banyak layar televisi kita belakangan ini. Momentum ini, kesempatan untuk memperbaiki citra polisi di kalangan masyarakat kita, dengan sangat cepat direspons para petinggi Polri. Norman Camaru diarak ke Jakarta, shooting beragam acara di banyak stasiun televisi, lengkap dengan “kawalan” sang atasan, kepala Brimob Gorontalo. Fenomena ini segera memunculkan persepsi anomali, yaitu pemandangan yang sangat tidak biasa: “idol of production” dan “idol of consumption’ menyatu dalam satu orang, yaitu Norman Camaru. Politisi/pegawai pemerintah (dalam konteks Norman sebagai anggota Polri yang merupakan bagian dari aparatur negara) sekaligus entertainer. Benar-benar sebuah anomali atau keadaan abnormal dari sudut pandang teori Budaya Pesohor dalam kajian komunikasi.
Pertanyaannya adalah, apakah momentum ini bisa dijadikan sebagai sebuah strategi PR yang berkelanjutan? Ini merupakan pekerjaan rumah para petinggi Polri, khususnya di bagian yang mengurusi masalah pencitraan organisasi Polri secara keseluruhan (Humas). Akan merupakan sebuah kerja raksasa bagi Humas Polri untuk membuat Public Relations Officer seperti Norman Camaru. Polri perlu menciptakan Norman-Norman yang lain, yang berkelanjutan, agar citra Polri yang belakangan ini mendapat “cobaan’ yang bertubi-tubi dapat dipulihan dan dikembalikan ke sifat asalnya sebagai pengayom masyarakat kita dalam konteks melindungi dan melayani masyarakat. Jangan sampai statemen pakar politik dari Universitas Paramadina, Anies Baswedan (polling republika.co.id, “Kinerja Polisi Tak Memuaskan”, Republika, Selasa, 26 April 2011, halaman 4) bahwa satu kali aparat keamanan (polisi dan intelejen) gagal dalam mengantisipasi aksi teror, 100 kali keberhasilan mereka akan bernilai gagal di mata masyarakat, terjadi. Dengan mengembangkan manajemen media dan memanfaatkan strategi kehumasan alternatif seperti budaya pesohor, Polri pasti dan harus mampu membalikkan anggapan di atas menjadi, 1 kali kegagalan Polri dalam antisipasi aksi teror (dan semua tindakan melawan hukum lainnya) dapat dan harus bisa ditutupi dengan 100 kisah sukses kerja Polri. Itu baru bisa dikatakan adil dan proporsional. Semoga.

*Mantan Jurnalis Televisi, saat ini bekerja sebagai Staf Pengajar Tetap Fakultas Komunikasi President University
Jababeka Education Park, Jl. Ki Hajar Dewantara, Kota Jababeka, Bekasi 17750 Telp: 021-8910 976 dan HP: 0815- 637 395 12
Artikel dimuat dalam Majalah Bulanan Polisi Metropolitan Jakarta Raya JDS (Jaya Dharma Sevaka) edisi 49, April 2011

Monday, December 13, 2010

Pak BeYe Vs Sultan Hamengkubuwono X: Raja Jawa Vs Raja Jawa?

Seru. Kata ini saya rasa sesuai buat menggambarkan polemik tentang RUUK Yogyakarta. Media kita penuh dengan perang kata-kata antara pendukung Pak BeYe dan fans setia Pak Sultan Jogya. Semua ngotot dengan argumentasi versi masing-masing. Semua mengklaim paling benar sendiri. Semua menganggap lawan bodoh dan tidak paham sejarah. Bahkan celakanya, sudah mulai ada tanda masing-masing pihak melakukan pengerahan massa untuk membela pendapat golongannya. Politik dalam tataran persuasi mulai berubah menjadi politik adu otot. Sangat menyedihkan. Pun menyebalkan.

Mengapa saya bilang menyedihkan dan pada saat yang sama, menyebalkan? Alasannya sederhana. Kelompok akar rumput kedua pihak, yang sama naif dan lugunya, mulai diperalat elit politik kita ke arah politik ala pengerahan massa. Jenis strategi politik primitif, yang meski kuno tapi dalam banyak kasus efektif diterapkan di negara kita. Diawali para punggawa dengan perang kata-kata, namun kemudian nampaknya akan diakhiri dengan mobilisasi rakyat awam, berhadap-hadapan, membentuk dua front diametral. Sama-sama dipenuhi dengan amarah yang meluap. Tangan mengepal. Otot leher yang menegang keras. Umbaran kata nan panas. Siap "berperang" sampai keyakinannya tercapai. Luar biasa. (bersambung)

Monday, November 8, 2010

Obama Datang: Tamu atau Tuan Rumah, sich?

Pagi ini saya membaca email di milis alumni FISIP UI. Isinya: curahan hati seorang alumni UI yang kebetulan karyawan UI, di Depok. Berikut kutipan lengkapnya:

Akhirnya  Balairung dipilih menjadi tempat Presiden Barack Hussein Obama untuk berpidato di hadapan para mahasiswa dan undangan yang diperkirakan dipenuhi 5000 orang. Undangan sudah disebar, ada duaribu mahasiswa UI yang diundang. Kewenangan siapa saja yang diundang dan boleh hadir ada di tangan pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat. Kantor Humas UI saja tidak diundang dan tidak dilibatkan.

Gedung Balairung ditata sedemikian rupa sehingga aman untuk berpidato. Ada jarak antara panggung tempat pidato dengan undangan di bawah panggung. Kira-kira kalau orang melemparkan sepatu atau batu dari tempat duduk di bawah panggung tidak sampai kepada orang yang berpidato di panggung. Ini mengingatkan kepada peristiwa Presiden George W Bush sewaktu berpidato di salah satu negera, dilempari sepatu oleh seorang undangan. Batu atau kerikil bisa saja dibawa oleh undangan (mahasiswa) yang bisa disimpan di bawah sepatu atau disaku baju, meniru gerakan intifadha di Palestina yang melawan tentara Israel yang bersenjata lengkap dengan lemparan batu. Tetapi tadi pagi melihat ada spanduk ajakan kepada para mahasiswa UI dari yang mengatasnamakan BEM UI untuk mengenakan jaket almamater dan ditunggu di jalan, untuk “menguningkan” Jakarta jilid II pada tanggal 10 November.

Sudah ada empat panser, mobil pemadam kebakaran dan ambulance pemda Depok dan tampak pasukan paspamres melakukan pemeriksaan sekeliling gedung Balairung. Di sisi kanan balairung ada enam  jenset  berkapasitas 200 – 400 KVA tersedia untuk mensuplai kebutuhan energi di Balairung.

Aktivitas di berbagai fakultas masih ada kegiatan belajar. Bank-bank di dalam kampus masih aktif melayani nasabah. Sementara di Pusat adminstrasi Universitas, ada surat edaran dari Direktorat SDM, yang ditafsirkan oleh kebanyakan pegawai hari senin hingga hari rabu, boleh datang (terlambat) dan boleh tidak, tidak mengurangi absensi bulanan. Siang menjelang jam 13.00 WIB para pegawai sudah ada yang meninggalkan kantor. Esok hari entahlah, apakah masih dibolehkan orang lewat ke balairung.

Komentar saya: dengan sangat teramat gregetan,  geram, benci, gemas dan sebutlah seluruh kosa kata tidak suka lainnya, saya harus bilang: KETERLALUAN!
Apakah layak, demi menyambut "tamu" (sengaja saya beri tanda petik karena sebenarnya tidak jelas, siapa sih sebenarnya "tamu" dan "tuan rumah" nya?), tuan rumah - UI -  rela menjatuhkan harga dirinya sendiri sedemikian rendah? Alih-alih pihak Humas UI yang menjadi manajer perhelatan kunjungan seremonial-Politis Obama, sang mantan Anak Menteng itu, bahkan Humas UI sendiri TIDAK DILIBATKAN BAHKAN TIDAK DIUNDANG. Masya Allah.......
Lebih celakanya lagi, orang-orang UI (siapapun mereka, alumni, karyawan, dosen) terkesan 'nrimo tanpa reserves perlakuan pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat itu. Luar biasa memalukan. Kita, sehebat apapun klaim para pemimpin kita di masa lalu yang menyebutkan dengan gagah kita adalah bangsa yang besar, patut berkaca berhari-hari lamanya, untuk kemudian mengaku dengan segenap kepasrahan, bahwa rupanya, penyakit rendah-diri, inferiority complex kita terhadap kekuatan asing (baca: negara-negara Barat) masih tertancap amat dalam, kukuh, teramat kuat dan bersimaharajalela dalam diri kita.
Ya Tuhan, ampuni bangsa ini.......

Saturday, November 6, 2010

Bela Diri Pemerintah Ttg Buruknya Manajemen Bencana

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - President Susilo Bambang Yudhoyono said comments and criticisms were needed but without contributions they would not settle problems.

"Therefore, National Disaster Management Agency (BNPB) personnel, regional and local governments, the military (TNI) and the police must all focus on the implementation of their tasks, with all their might, be responsive, responsible and find the right solutions to the problems," he said here on Saturday.
  
He made the statement when opening a limited cabinet meeting on emergency response to the Mount Merapi disaster at the presidential palace in Yogyakarta. President Yudhoyono was in Yogyakarta, which is about 35 kilometers south of Mount Merapi, to closely monitor Merapi disaster management.

Yudhoyono said he had assigned BNPB to command the Merapi disaster emergency response operations and asked the coordinating minister for people’s welfare to be the central government’s coordinator to ensure the swift and effective distribution of relief aid for the victims.
  
"I hope the functions would work well. I am here to give moral support  and share the pain of the people of Central Java and Yogyakarta and directly monitor the situation in the field. In case I have to take a correct and quick decision I could do it immediately cutting the bureaucracy and reporting time. A decision is often needed in the field in an emergency situation," he said.
  
President Yudhoyono also asked officials to focus on their tasks in the field. "Do not find me when you are on duty but go to the field more often to meet with the people. I am already self-reliant with all the team available. So I need no other services," he said.
  
According to him, the decisions and instructions to deal with the impact of Merapi eruptions had been given last Friday and so no other instructions were needed, except if they wished to report that what  they had been told to at national or regional levels had really been carried out.
  
"I landed in Semarang (Central Java) last night and spent the night in Magelang (Central Java). We have been consolidating and monitoring the developments and received reports from BNPB chief and other officials in Magelang on Saturday morning," he said. He added he later proceeded to Yogyakarta through Purworejo.

"What I heard and personally saw was that part of what I have instructed had been carried out but some other part are still being carried out and some other still had yet to be done. I understand that in crisis and emergency problems often become complicated, dynamic and complex so that the solutions cannot be found all at once. I could understand it. That is how a disaster is dealt with and emergency response is done in the country as well as other countries from year to year," he said.
   
President Yudhoyono said what was important was that all parties including central and regional officials were all responsible in carrying out their duties, responsive and willing to go to the field and finding solutions. The meeting was attended by ministers concerned with disaster management such as coordinating minister for people’s welfare Agung Laksono, coordinating minister for political, security and legal affairs Djoko Suyanto and coordinating minister for economic affairs Hatta Rajasa (http://lipsus.kompas.com/merapimeletus/read/2010/11/07/08341152/How.SBY.Considers.Criticisms.over.Disaster.Management)

Komentar saya tentang artikel berita di atas:
Pak Beye rupanya masih menggunakan teknik klasik propaganda: Card-Stacking untuk mengkonter tudingan terhadap dirinya yang dianggap gagal dalam tata kelola bencana di 3 di wilayah bencana saat ini, Wasior, Mentawai dan Mentawai.Card Stacking, sebagaimana yang dirumuskan oleh Institute for Propaganda Analysis (IPA) adalah, sebuah teknik yang:

It involves only presenting information that is positive to an idea or proposal and omitting information contrary to it. Card stacking is used in almost all forms of propaganda, and is extremely effective in convincing the public. Although the majority of information presented by the card stacking approach is true, it is dangerous because it omits important information"

Pemerintah sebagai pengemban kekuasaan eksekutif tertinggi adalah pihak yang bertanggungjawab penuh dalam penanganan bencana, di mana pun itu terjadi di wilayah hukum RI. alih-alih berusaha secepat mungkin dengan mengerahkan sumber daya yang paling maksimal ke daerah-daerah bencana, pemerintah terkesan kuat bergerak lamban, penuh keraguan dan bahkan sialnya, melakukan banyak miskordinasi dan miskomunikasi di tataran operasional. Kondisi ini menyebabkan penanganan bencana menjadi tidak terkoordinasi dengan baik dan pada akhirnya masyarakat yang terkena musibah terlambat menerima bantuan. Konsekuensi logisnya: menambah penderitaan mereka.
Hebatnya, pemerintah, seperti biasanya, memasang jurus berkelit yang "lebay": bersilat lidah untuk membela diri serta pada saat yang sama menunjuk 'hidung' pihak lain di bawahnya sebagai biang kerok permasalahan mismanajemen pemberian bantuan kepada pihak yang membutuhkan. Dari artikel berita di atas yang saya cantumkan secara penuh, SBY misalnya malah menyalahkan instansi BNPB dan pada saat yang sama masih sempat-sempatnya bersilat lidah dengan tutur kata yang amat manis. Luar biasa. Mengherankan sekaligus menggelikan.
Akhirnya, konklusi reflektif penutup saya untuk topik di atas adalah: eksekutif yang dipilih secara langsung oleh rakyatnya, bahkan dengan margin suara yang sangat besar, rupanya tidak menjamin dia akan benar-benar mampu menjadi tumpuan harapan pemilihnya bahkan di saat yang paling kritis seperti saat bencana melanda. Sungguh sayang.

Tata Kelola Bencana Kita: Apa yang salah?

Kenapa harus kami yang menanggung bencana ini? Kutipan kecil ini terasa menyayat hati. Namun pemerintah kita sepertinya nyaris tidak melakukan reaksi yang sigap dalam penanganan musibah di Merapi, Wasior dan Mentawai.
Lelet. Telmi. Hanya sibuk dengan memoles pencitraan politik tanpa substansi. Repot mengurus pembagian jatah kekuasaan politik. Tingkah-polah yang sangat tidak manusiawi. (ini baru intro, nanti bersambung...ngantuk nih....:)